Saatnya Suara Muda Didengar!


Mahasiswa
Bagi kamu yang belum merasakan betul perjuangan para pemuda saat meraih haknya dalam bersuara, dimana hal ini terjadi sebelum momentum Mei 1998 berlangsung, maka beruntunglah kamu. Mengapa demikian?

perubahan
Karena di masa itu, aktivitas dan suara pemuda sangat sulit didengar. Pemuda terutama para aktivis muda mengalami kesulitan untuk memainkan peranannya terutama dalam mengkritisi kebijakan pemerintah. Selama 32 tahun rezim Presiden Soeharto, segala tindakan yang dianggap mencurigakan oleh pemerintah Indonesia akan ditindak. Tak jarang, pemuda yang mencoba untuk melanggar hal tersebut pada akhirnya dihilangkan. Sungguh naas nasib mereka. Bahkan, sekedar untuk memberikan masukan pun tidak boleh. Apalagi mengkritik maupun memprotes pemerintahan. Masuk penjara pun sudah dapat dikatakan untung. Tak jarang, banyak kasus aktivis muda yang tiba-tiba hilang secara misterius dan tidak ditemukan lagi sosoknya,

Pasca 1998, jalannya pemerintahan di Indonesia menjadi lebih jelas. Pemuda yang selama ini selalu dibungkam, pada akhirnya dapat bersuara dan bertindak. Suara-suara untuk memberikan kritik dan saran pada pemerintah menjadi lebih terbuka. Namun sayangnya, tingkat keaktifan di kancah politik masih sangat kurang. Kini saatnya, suara kamu didengar!

Komisi Pemilihan Umum (KPU) menunjukkan, jumlah pemilih pemula Pemilu 2014 yang berusia 17 sampai 20 tahun sekitar 14 juta orang. Sedangkan yang berusia 20 sampai 30 tahun sekitar 45,6 juta jiwa. Pada pemilu 2004, jumlah pemilih pemula mencapai sekitar 27 juta dari 147 juta pemilih. Pada pemilu 2009 sekitar 36 juta pemilih dari 171 juta pemilih.

Kemudian data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2010 penduduk berusia 15-19 tahun sebanyak 20.871.086 orang, dan usia 20-24 tahun sebanyak 19.878.417 orang. Jika dijumlahkan mencapai 40.749.503 orang. Pada Pemilu mendatang ini, jumlah pemuda yang mempunyai hak pilih bisa mencapai 40 sampai 42 persen. Coba bayangkan kalau angka sebegitu besarnya menjadi golput?

Pemuda mempunyai karakteristik berbeda dengan segmen pemilih lainya. Guna meningkatkan partisipasi yang tinggi dari kalangan pemuda maka diperlukan pendekatan yang khusus, terutama bagi kalangan pemilih pemula. Pemuda harus punya atensi dan keterlibatan yang aktif, karena Pemilu 2014 ini adalah titik puncaknya pengabdian generasi 45, 66, 70 yang harus disambut oleh generasi 80 dan 90-an,” ujar tokoh pemuda Partai Golkar Ahmad Doli Kurnia Tandjung.

Sebagai pemuda yang hidup di era demokrasi, pemuda diharapkan untuk menjadi pemilih yang krtisi, tidak individualistis dan punya visi. Bayangkan, dari 100 persen jumlah suara, pemuda hampir memiliki jumlah suara setengahnya! Berarti, pilihan dan suara yang kita keluarkan sangat berpengaruh terhadap pemerintahan Indonesia di masa mendatang. Jika pemuda tidak mengeluarkan suaranya atau golput, maka jangan menyalahkan faktor lainnya, jika calon pemimpin yang berada di tampuk pemerintahan nantinya, bukanlah pemimpin yang representatif, yang sanggup mewakili suara rakyat dalam pemerintahannya. Ini saatnya suara pemuda didengar!

Advertisements
Saatnya Suara Muda Didengar!